Holla..
Lagi pengen nulis lirik lagu nih, entah kenapa tiap lihat videonya gue selalu nangis tersedu-sedu *hiks maafkan aku yang baperan ini*
Tapi serius lagunya sedih banget cyiiiin😭😭
So cek this song lyrics out gals...
Alvaro Maldini - Terima Kasih Sahabat
hariku selalu ada hadirmu
suka dan duka sudah kita jalani
tapi waktu berkata kita harus berpisah
tak kan ku lupakan kisah kita untuk selamanya
terima kasih sahabat karena kau sahabat terbaik
ku ingin kita kan bertemu di suatu hari nanti
simpanlah aku dalam hati
jangan pernah lupakan aku
ku ingin kau sehat selalu sampai kita kan bertemu lagi
sahabat...
perpisahan memang tidak dapat kita duga
tapi yang perlu kamu tahu
hal terindah yang kau bawa pergi adalah
kita pernah bersama dan menjadi yang terhebat
terima kasih sahabat...
selamat menjalani kehidupan yang baru
jangan pernah lupakan aku
------------
Minggu, 11 September 2016
Senin, 20 Juli 2015
10 Diving Spot Paling Favorit di Indonesia
Bagi anda yang menyukai olah raga diving dan sekarang ini tinggal atau
berada di Indonesia maka anda merupakan orang yang sangat beruntung
sekali. Dimana di Indonesia ini ada banyak sekali spot diving yang bisa
anda kunjungi. Mulai dari yang biasa saja hingga spot yang paling baik
dan menjadi favorit banyak penyelam. Sebenarnya jika melihat spot baik
atau tidak itu tergantung anda, karena itu adalah hal yang subyektif.
Apabila anda hendak mencoba keindahan bawah laut yang ada di Indonesia sebaiknya anda simak daftar 10 diving spot terbaik di Indonesia berikut ini.
- Walwao, Raja Ampat
Ini adalah salah satu surga tersembunyi yang ada di tanah air kita.
Lokasinya yang berada di Papua Barat membuat Raja Ampat unggul dalam
keindahan alam serta keindahan bawah lautnya. Dimana anda bisa
mengunjungi Walwo yang menjadi spot diving paling terkenal. Lokasi
tepatnya berada di Pulau Waigeo.
Menurut The Nature Conservancy and Conservation Internasional
perairan di Raja Ampat sendiri dihuni oleh 75 persen spesies laut yang
tersebar di seluruh dunia.
- The Canyon, Pulau Weh
Pulau yang satu ini merupakan surga diving bagi anda yang hobi
menyelam. Patut untuk anda kunjungi apabila anda ingin memiliki
pengalaman yang tidak akan anda lupakan. Salah satu spot paling cantik
yang ada di sana adalah The Canyon, yang memiliki pemandangan laut
paling cantik diantara spot lainnya.
The Canyon tergolong cukup gelap untuk penyelaman, dimana The Canyon
ini merupakan bebatuan yang membentuk sebuah labirin alami. Yang membuat
menarik adalah anda bisa menemukan berbagai macam arus tidak menentu.
Sensasi dari hal tersebut membuat banyak penyelam menjadikan spot ini
favorit mereka. Apabila anda beruntung anda bahkan bisa berjumpa dengan
napoleon fish raksasa.
- Kepulauan Derawan
Lokasi dari spot yang satu ini berada di Kepulauan Derawan, Kabupaten
Berau, Kalimantan Timur. Terdapat taman laut yang memang sangat cantik
sekali, dimana untuk spot yang ada bisa menemukan anda dengan penyu
hijau. Spot tersebut berada di pulau Sangalaki. Apabila anda datang pada
bulan Juli hingga September maka anda bisa menemukan banyak penyu hijau
menemani penyelaman anda, selain itu juga ada beragam biota laut yang
bisa anda temukan.
- Teluk Kiluan
Teluk ini berada di Kabupaten Tanggamus, Lampung Selatan. Dimana
teluk yang satu ini dikenal sebagai tempat migrasi para lumba-lumba
mulut botol. Sehingga anda bisa melihat dengan mudah lumba-lumba
berkeliaran di Teluk Kiluan kapan saja. Namun jika ingin mendapatkan
momen yang baik sebaiknya lakukan diving ketika pagi hari.
Ada beberapa spot diving yang bisa anda temukan di teluk tersebut,
pilihan kedalaman yang ada juga cukup beragam. Berbagai karang indah dan
beragam biota laut bisa anda temukan dengan menyelam 20 hingga 30
meter. Bahkan di sini anda juga bisa menemukan banyak penyi pada
kedalaman tersebut.
- Wakatobi Marine Park
Taman Nasional Waktobi menyajikan banyak sekali spot diving, dan yang
paling terkenal dan menjadi favorit adalah Wakatobi Marine Park. Dimana
anda akan menyelam dengan ditemani sekitar 590 jenis ikan dan 396 jenis
terumbu karang tersusun indah memanjakan mata anda. Ikan badut, kuda
laut hingga barracuda juga bisa saja mengelilingi anda ketika menyelam.
Bagi Anda pecinta pulau-pulau di Indonesia, dan ingin mengetahui
pulau-pulau di Indonesia secara lengkap, Anda bisa langsung saja
bergabung di Komunitas Jelajah Pulau di page Facebook, dan juga Anda bisa follow akun twitter @islandnesia untuk informasi lengkap pulau Indonesia.
Sumber:
Kamis, 12 Maret 2015
Macam-Macam Model Konsep Kurikulum
KAJIAN
KURIKULUM
MACAM-MACAM
MODEL KONSEP KURIKULUM
Kelompok
4
Cita Citra (8105123263)
Marlinah Nurtrisnawati (8105123279)
Rachmat Gumelar (8105123252)
Raisha Saufa Yutika (8105123334)
Ramos Aruan (8105123312)
Siti Nurlaela (8105123348)
PENDIDIKAN ADMINISTRASI
PERKANTORAN REGULER 2012
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS NEGERI
JAKARTA
2015
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Kurikulum dapat dikategorikan ke dalam empat kategori umum yaitu: humanistic, rekonstruksi social, teknologi dan
akademik. Masing-masing kategori memiliki perbedaan dalam hal apa yang harus
diajarkan, oleh siapa diajarkan, kapan, dan bagaimana mengerjakannya.
Konsep kurikulum humanistic lebih mengarah
pada kurikulum yang dapat memuaskan setiap individu, agar mereka dapat
mengaktualisasikan dirinya sesuai dengan potensi dan keunikan masing-masing. Adapun konsep kurikulum
rekonstruksi social tidak
sekedar menekankan pada pada minat
individu, tetapi juga pada kebutuhan sosialnya. Konsep kurikulum teknologi
memberi pandangan bahwa kurikulum
harus dibuat sebagai suatu proses teknologi untuk dapat memenuhi keinginan
pembuat kebijakan. Konsep kurikulum akademik, di sisi lain dipandang sebagai
wahana untuk mengendalikan mata pelajaran yang akan dipelajari oleh peserta
didik.
B.
Rumusan
Masalah
1. Apa
pengertian kurikulum subject akademis?
2. Apa
pengertian kurikulum humanistic?
3. Apa
pengertian kurikulum rekonstruksi social?
4. Apa
pengertian kurikulum technology?
C.
Tujuan Penulisan
1. Agar
mahasiswa mampu mengetahui apa itu kurikulum subject akademis.
2. Supaya
mahasiswa mampu memahami tentang kurikulum humanistic.
3. Agar
mahasiswa mengetahui kurikulum rekonstruksi
social.
4. Supaya
mahasiswa mampu mengerti kurikulum technology.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Model
Konsep Kurikulum
Model konsep kurikulum sangat mewarnai pendekatan yang
diambil dalam pengembangan kurikulum. Sebagai kajian teoritis, model konsep
kurikulum merupakan dasar untuk pengembangan kurikulum. Atau
dengan kata lain, pendekatan pengembangan kurikulum didasarkan atas
konsep-konsep kurikulum yang ada.
Model konsep kurikulum sangat berkaitan dengan aliran pendidikan
yang dianut. Aliran pendidikan dapat dibedakan menjadi
empat, yaitu:
1.
Pendidikan
klasik, yang menggunakan model konsep kurikulum subjek akademis,
2.
Pendidikan
pribadi, yang menggunakan model konsep kurikulum humanistik,
3.
Teknologi
pendidikan, yang menggunakan kurikulum teknologi, dan
4.
Pendidikan
interaksionis, yang menggunakan model konsep kurikulum rekonstruksi sosial.
Sampai saat ini banyak model kurikulum yang telah
dikembangkan oleh para ahli. Pada makalah ini akan kami kaji empat macam
model konsep kurikulum berdasarkan pada urutan kajian paling tradisional
sampai pada kajian yang dianggap cukup modern.
1.
Kurikulum Subjek Akademis
Kurikulum
ini lebih mengutamakan isi pendidikan. Belajar adalah berusaha menguasai ilmu sebanyak-banyaknya. Orang yang
berhasil dalam belajar adalah orang yang menguasai seluruh atau sebagian besar
isi pendidikan yang diberikan atau yang disiapkan oleh guru. Karena kurikulum
sangat mengutamakan pengetahuan maka pendidikannya sangat bersifat intelektual,
nama-nama mata pelajaran
yang menjadi isi kurikulum hampir
sama dengan nama disiplin ilmu, seperti bahasa dan sastra, geografi,
matematika, ilmu kealaman, sejarah dsb.
Sekurang-kurangnya
ada tiga pendekatan dalam perkembangan kurikulum subjek akademis yaitu:
a. Melanjutkan
pendekatkan struktur pengetahuan.
b. Studi
yang bersifat integratif.
c. Pendekatan
yang dilaksanakan pada sekolah-sekolah fundamentalis.
1) Ciri-ciri
kurikulum subjek akademis
Kurikulum
subjek akademis mempunyai beberapa ciri-ciri berkenaan dengan tujuan, metode,
organisasi isi dan evaluasi. Tujuan kurikulum subjek akademis adalah pemberian
pengetahuan yang solid serta melatih para siswa menggunakan ide-ide dan proses
penelitian. Metode yang banyak digunakan dalam kurikulum subjek akademis adalah
metode ekspositori dan inquiry. Sedangkan pola organisasi isi (materi
pelajaran) kurikulum subjek akademis antara lain:
1. Correlated curriculum
2. Unified atau concentrated
curriculum
3. Integrated curriculum
4. Problem solving curriculum.
Tentang
kegiatan evaluasi kurikulum subject akademis menggunakan bentuk evaluasi yang
bervariasi disesuaikan dengan tujuan dan sifat mata pelajaran.
2) Pemilihan
disiplin ilmu.
Masalah besar yang dihadapi oleh
para pengembang kurikulum subjek akademis adalah bagaimana memilih mata
pelajaran dari sekian banyak disiplin ilmu yang ada. Ada beberapa saran untuk mengatasi
masalah tersebut yaitu:
1. Mengusahakan adanya penguasaan yang menyeluruh
dengan menekankan pada bagaimana cara menguji kebenaran atau mendapatkan
pengetahuan.
2. Mengutamakan
kebutuhan masyarakat (social utility).
3. Menekankan
pengetahuan dasar.
3) Penyesuaian
mata pelajaran dengan perkembangan anak.
Para
pengembang kurikulum subjek akademis, lebih mengutamakan penyusunan bahan secara
logis dan sistematis daripada menyelaraskan urutan bahan dengan kemampuan
berfikir anak. Mereka umumnya
kurang memperhatikan bagaimana siswa belajar dan lebih mengutamakan
susunan isi yaitu apa yang diajarkan. Proses belajar yang ditempuh oleh siswa
sama pentingnya
dengan penguasaan konsep, prinsip-prinsip dan generalisasi.
Untuk
mengatasi kelemahan di atas
dalam perkembangan selanjutnya dilakukan beberapa
penyempurnaan , pertama untuk mengimbangi penekanannya pada proses berfikir,
kedua adanya upaya-upaya untuk
menyesuaikan pelajaran dengan perbedaan individu dan kebutuhan setempat,
ketiga pemanfaatan fasilitas dan sumber yang ada pada masyarakat.
2.
Kurikulum Humanistik
Kurikulum
humanistic dikembangkan oleh para ahli pendidikan humanistic. Kurikulum ini
berdasarkan konsep aliran pendidikan pribadi (personalized education) yaitu John Dewey (progressive
education) dan J.J Rousseau (romantic education). Aliran
ini lebih memberikan tempat utama kepada siswa. Mereka
bertolak dari asumsi bahwa anak/siswa adalah yang pertama dan utama dalam
pendidikan. Ia adalah subjek yang menjadi pusat kegiatan pendidikan.
Pendidikan
humanistic menekankan peranan siswa. Pendidikan
merupakan suatu upaya untuk menciptakan situasi yang permisif, rileks, dan
akrab. Oleh karena itu, peran guru
yang diharapkan adalah sebagai berikut:
1. Mendengar
pandangan realitas peserta didik secara komprehensif.
2. Menghormati
individu peserta didik,
3. Tampil
alamiah, otentik, tidak dibuat-buat.
1) Karakteristik
kurikulum humanistic.
Kurikulum
humanisik mempunyai beberapa karakteristik berkenaan dengan tujuan, metode,
organisasi isi dan evaluasi. Menurut para humanis kurikulum berfungsi
menyediakan pengalaman atau pengetahuan berharga untuk membantu memperlancar perkembangan
pribadi murid. Bagi mereka tujuan pendidikan adalah proses perkembangan pribadi
yang dinamis yang diarahkan pada pertumbuhan, integritas, dan otonomi
kepribadian, sikap yang sehat terhadap diri sendiri, orang lain dan belajar.
Kurikulum
humanistic menuntut hubungan
emosional yang baik antara guru dengan murid. Dalam evaluasi kurikulum
humanistic berbeda dengan yang biasa. Model lebih mengutamakan proses daripada
hasil.
2) Kelemahan kurikulum
humanistic.
1. Keterlibatan emosional
tidak selamanya berdampak positif bagi perkembangan
individual peserta didik.
2.
Meskipun kurikulum ini
sangat menekankan individu peserta didik, pada kenyataannya di setiap program
terdapat keseragaman peserta didik.
3.
Kurikulum ini kurang
memperhatikan kebutuhan masyarakat secara keseluruhan.
4.
Dalam kurikulum ini,
prinsip-prinsip psikologis yang ada kurang terhubungkan.
3. Kurikulum
Rekonstruksi
Sosial
Kurikulum
Rekonstruksi social berbeda
dengan model-model kurikulum lainnya. Kurikulum ini lebih memusatkan perhatian
pada problema-problema yang dihadapinya dalam masyarakat. Kurikulum ini bersumber
pada aliran pendidikan interaksional. Menurut
mereka pendidikan bukan upaya sendiri, melainkan kegiatan bersama, interaksi,
kerjasama. Kerjasama atau interaksi bukan hanya terjadi antara siswa dengan
guru, tetapi juga antara siswa dengan siswa, siswa dengan orang-orang di
lingkungannya, dan dengan
sumber belajar lainnya. Melalui
interaksi dan kerjasama ini siswa berusaha memecahkan problema-problema yang
dihadapinya dalam masyarakat menuju pembentukan masyarakat yang lebih
baik.
Pandangan
rekonstruksi social di dalam kurikulum dimulai sekitar tahun 1920-an. Harold
Rug mulai melihat dan menyadarkan kawan-kawannya bahwa selama ini terjadi
kesenjangan antara kurikulum dengan masyarakat. Ia menginginkan para siswa
dengan pengetahuan dan konsep-konsep baru yang diperolehnya dapat
mengidentifikasi dan memecahkan masalah-masalah social.
Theodore
Brameld, pada awal tahun 1950-an menyampaikan gagasannya tentang rekonstruksi
social. Dalam masyarakat demokratis, seluruh warga masyarakat harus ikut serta
dalam perkembangan dana pembaharuan masyarakat. Untuk melaksanakan hal itu
sekolah mempunyai posisi yang cukup penting. Sekolah bukan saja dapat
membantu individu mengembangkan kemampuan sosialnya, tetapi juga dapat membantu
bagaimana berpartisipasi sebaik-baiknya dalam kegiatan social.
1) Desain kurikulum rekonstruksi social
Ciri
dari desain kurikulum ini adalah,
a. Asumsi
b. Masalah-masalah social yang
mendesak
c. Pola-pola organisasi
2) Komponen-komponen kurikulum rekonstruksi sosial
a. Tujuan dan isi kurikulum
b. Metode
c. Evaluasi
Kegiatan yang dilakukan
dalam kurikulum ini antara
lain melibatkan,
1. Survey
kritis terhadap suatu masyarakat
2. Study
yang melihat hubungan antara ekonomi local dengan ekonomi nasional atau internasional
3. Studi
pengaruh sejarah dan kecenderungan situasi ekonomi local
4. Uji
coba kaitan praktik politik dengan perekonomian
5. Berbagai
pertimbangan perubahan politik
6. Pembatasan
kebutuhan masyarakat pada umumnya
4.
Kurikulum Teknologi
Di
kalangan pendidikan, teknologi sudah dikenal dalam bentuk pembelajaran berbasis
komputer, sistem pembelajaran individu,
kaset atau video pembelajaran. Banyak
pihak yang kurang menyadari bahwa teknologi sangat membantu menganalisi masalah
kurikulum, dalam hal pembuatan, implementasi, evaluasi dan pengelolaan
instruksional.
Persepektif
teknologi sebagai kurikulum ditekankan pada efektifitas program metode
dan material untuk mencapai suatu manfaat dan keberhasilan. Teknologi mempengaruhi
kurikulum dalam dua cara yaitu aplikasi dan teori.
Pada
tahun 1960, B. F. Skimmer menganjurkan efesiensi dalam belajar, yaitu cara
mengajar yang memberikan lebih banyak subjek kepada peserta didik. Efesiensi ini adalah
tahapan belajar melalui terminal perilaku tertentu. Berdasarkan hal ini,
teknologi mengembangkan aturan-aturan untuk membangun kurikulum dalam bentuk latihan
terprogram.
Ciri-ciri kurikulum
teknologis
a.
Tujuan. Tujuan diarahkan
pada penguasaan kompetensi yang dirumuskan dalam bentuk perilaku.
b.
Metode. Metode yang
merupakan kegiatan pembelajaran sering dipandang sebagai proses mereaksi
terhadap perangsang-perangsang yang diberikan dan apabila terjadi respon yang
diharapkan maka respon tersebut diperkuat.
c.
Organisasi bahan ajar. Bahan
ajar atau isi kurikulum banyak diambil dari disiplin ilmu, tetapi telah diramu
sedemikian rupa sehingga mendukung penguasaan suatu kompetensi.
d.
Evaluasi. Kegiatan evaluasi
dilakukan pada setiap saat, pada akhir suatu pelajaran, suatu unit ataupun
semester.
Teknologi
berperan dalam meningkatkan kualitas kurikulum, dengan memberi kontribusi mengenai
keefektifan intruksional, tahapan intruksional, dan memantau perkembangan
peserta didik. Oleh
karenanya sangat beralasan bahwa dewasa ini semakin banyak kurikulum efektif
yang selaras dengan perkembangan
teknologi. Meskipun
biaya yang dikeluarkan dalam pengembangan kurikulum teknologi ini cukup besar,
tapi sebanding dengan nilai yang didapat dan pembelajaran bagi para siswa saat
model ini diterapkan.
Salah
satu kelemahan kurikulum teknologi ini adalah kurangnya perhatian pada
penerapan dan dinamika inovasi. Model teknologi ini hanya menekankan
pengembangan efektifitas produk saja, sedangkan perhatian untuk mengubah
lingkungan yang lebih luas, seperti organisasi sekolah, sikap guru, dan cara
pandang masyarakat sangat kurang.
DAFTAR PUSTAKA
Tasrif, Akib. 2012. Pembinaan
dan Pengembangan Kurikulum SD. Makassar: Universitas
Muhammadiyah Makassar
Hernawan, Susilana. 2012. Pengembangan
Kurikulum dan Pembeajaran. Jakarta: Universitas
terbuka
http://murniasihmu.wordpress.com/2011/12/31/model-konsep-kurikulum/
Kamis, 19 Februari 2015
TUGAS 1 KEPEMIMPINAN
SITI
NURLAELA
8105123348
Pendidikan
Administrasi Perkantoran Reguler 2012
KEPEMIMPINAN
1.
Pemimpin adalah seseorang yang memiliki
kelebihan di satu bidang sehingga dia mampu mempengaruhi orang-orang lain untuk
bersama-sama melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi pencapaian satu atau
beberapa tujuan. Kepemimpinan
adalah kemampuan seseorang mempengaruhi dan memotivasi orang lain untuk
melakukan sesuatu sesuai tujuan bersama. Kepemimpinan meliputi proses
mempengaruhi dalam menentukan tujuan organisasi, memotivasi perilaku pengikut
untuk mencapai tujuan, mempengaruhi untuk memperbaiki kelompok dan budayanya.
2.
Tiga aliran teori tentang gaya kepemimpinan
1) Teori
Genetis (Keturunan)
Inti dari
teori ini menyatakan bahwa “Leader are born and not made” (pemimpin itu
dilahirkan (bakat) bukannya dibuat). Seorang pemimpin akan menjadi pemimpin
karena ia telah dilahirkan dengan bakat kepemimpinan. Dalam keadaan apapun
seseorang ditempatkan pada suatu waktu ia akan menjadi pemimpin karena ia
dilahirkan untuk itu. Artinya takdir telah menetapkan ia menjadi pemimpin. Pemimpin
tipe ini merupakan pemimpin yang sudah memiliki bakat di dalam dirinya jiwa
memimpin. Tanpa memerlukan pembelajaran kepemimpinan, seseorang ini memiliki
jiwa kepemimpinan yang dimiliki dirinya yang dianugerahkan Tuhan kepadanya.
2) Teori
Sosial
Inti aliran
teori sosial ini ialah bahwa “Leader are made and not born” (pemimpin itu
dibuat atau dididik bukannya kodrati). Jadi teori ini merupakan kebalikan inti
teori genetika. Para penganut teori ini berpendapat bahwa setiap orang bisa
menjadi pemimpin apabila diberikan pendidikan dan pengalaman yang cukup. Selain
itu seseorang perlu diberikan kesempatan untuk mengeksplor jiwa kepemimpinan
yang belum terasah.
3) Teori
Ekologis
Teori
ekologis ini pada intinya berarti bahwa seseorang hanya akan berhasil menjadi
pemimpin yang baik apabila ia telah memiliki bakat kepemimpinan. Bakat tersebut
kemudian dikembangkan melalui pendidikan yang teratur dan pengalaman-pengalaman
yang memungkinkannya untuk mengembangkan lebih lanjut bakat-bakat yang memang
telah dimilikinya. Teori ini menggabungkan segi-segi positif dari kedua teori
terdahulu sehingga dapat dikatakan merupakan teori yang paling mendekati
kebenaran.
3.
Menurut Hadari Nawawi, secara operasional
dapat dibedakan lima fungsi pokok kepemimpinan, yaitu:
1. Fungsi
Instruktif.
Pemimpin
berfungsi sebagai komunikator yang menentukan apa (isi perintah), bagaimana
(cara mengerjakan perintah), bilamana (waktu memulai, melaksanakan dan
melaporkan hasilnya), dan dimana (tempat mengerjakan perintah) agar keputusan
dapat diwujudkan secara efektif. Sehingga fungsi orang yang dipimpin hanyalah
melaksanakan perintah. Pemimpin bertugas untuk memberikan instruksi kepada
bawahan.
2. Fungsi
konsultatif.
Pemimpin dapat
menggunakan fungsi konsultatif sebagai komunikasi dua arah. Hal tersebut
digunakan manakala pemimpin dalam usaha menetapkan keputusan yang memerlukan
bahan pertimbangan dan berkonsultasi dengan orang-orang yang dipimpinnya.
Pemimpin tak selamanya bertindak sebagai atasan, karena ia perlu berbagi
informasi dan lainnya terhadap bawahan begitupun sebaliknya.
3. Fungsi
Partisipasi.
Dalam menjalankan
fungsi partisipasi pemimpin berusaha mengaktifkan orang-orang yang dipimpinnya,
baik dalam pengambilan keputusan maupun dalam melaksanakannya. Setiap anggota
kelompok memperoleh kesempatan yang sama untuk berpartisipasi dalam
melaksanakan kegiatan yang dijabarkan dari tugas-tugas pokok, sesuai dengan
posisi masing-masing. Dalam menjalankan visi yang dimiliki organisasi, pemimpin
membagi tugas kepada anggotanya agar saling beriringan untuk mencapai tujuan
organisasi.
4. Fungsi
Delegasi
Dalam
menjalankan fungsi delegasi, pemimpin memberikan pelimpahan wewenang membuat
atau menetapkan keputusan. Fungsi delegasi sebenarnya adalah kepercayaan seorang
pemimpin kepada orang yang diberi kepercayaan untuk pelimpahan wewenang dengan
melaksanakannya secara bertanggungjawab. Fungsi pendelegasian ini, harus
diwujudkan karena kemajuan dan perkembangan kelompok tidak mungkin diwujudkan
oleh seorang pemimpin seorang diri.
5. Fungsi
Pengendalian.
Fungsi pengendalian berasumsi bahwa
kepemimpinan yang efektif harus mampu mengatur aktivitas anggotanya secara
terarah dan dalam koordinasi yang efektif, sehingga memungkinkan tercapainya
tujuan bersama secara maksimal. Dalam melaksanakan fungsi pengendalian,
pemimpin dapat mewujudkan melalui kegiatan bimbingan, pengarahan, koordinasi,
dan pengawasan.
4.
Kepemimpinan Visioner
Pemimipin
visioner adalah pemimpin yang mempunyai suatu pandangan visi misi yang jelas
dalam organisasi, pemimpin visioner sangatlah cerdas dalam megamati suatu
kejadian di masa depan dan dapat menggambarkan visi misinya dengan jelas. Dia
dapat membangkitkan semangat para anggotanya dengan menggunakan motivasinya
serta imajinanasinya, untuk membuat suatu organisasi lebih hidup, menggerakan
semua komponen yang ada dalam organisasi, agar organisasi dapat berkembang.
Karakteristik Pemimpin Visioner
Kepemimpinan
visioner memiliki ciri-ciri yang menggambarkan segala sikap dan perilakunya
yang menunjukkan kepemimpinannya yang berorientasi kepada pencapaian visi, jauh
memandang ke depan dan terbiasa menghadapi segala tantangan dan ressiko.
Diantara cirri-ciri utama kepemimpinan visioner adalah:
1. Berwawasan
ke masa depan : pemimpin visoner mempunyai pandangan yang jelas terhadap suatu
visi yang ingin dicapai, agar organisasi yang dia masuki dapat berkembang.
Sesuai dengan visi yang ingin dia capai
2. Berani
bertindak dalam meraih tujuan, penuh percaya diri, tidak peragu dan selalu siap
menghadapi resiko. Pada saat yang bersamaan, pemimpin visioner juga menunjukkan
perhitungan yang cermat, teliti dan akurat. Dalam memperhitungkan kejadian yang
dianggapnya penting
3. Mampu
menggalang orang lain untuk kerja keras dan kerjasama dalam menggapai tujuan.
Pemimpin visioner adalah sosok pemimpin yang patut dicontoh, dia mau membuat
contoh agar masyarakat sekitar mencontoh dia
4. Mampu
merumuskan visi yang jelas, inspirasional dan menggugah, mengelola ‘mimpi’
menjadi kenyataan : pemimpin visioner sangatlah orang yang mempunyai komitmen
yang kuat terhadap visi diembannya, dia ingin mewujudkan visinya ke dalam suatu
organisasi yang dia masuki.
5. Mampu
mengubah visi ke dalam aksi : dia dapat merumuskan visi kedalam misinya yang
selanjutnya dapat diserap anggota organisasi. Yang dapat menjadikan bahan acuan
dalam setiap melangkah ke depan
6. Berpegang
erat kepada nilai-niliai spiritual yang diyakininya : pemimpin visioner
sangatlah profesionalitas terhadap apa yang diyakini, seperti nilai–nilai luhur
yang ada di bangsa ini. Dia sosok pemimpin yang bisa dijadikan contoh
7. Membangun
hubungan (relationship) secara efektif : pemimpin visioner sangatlah pandai
dalam membangun hubungan antar anggota, dalam hal memotivasi, memberi, membuat
anggotanya lebih maju dan mandiri. Secara tidak langsung hubungan itu akan
terjalin dengan sendirinya. Dia juga tidak malu–malu dalam member reward
dan punnisment terhadap anggotanya, tingkat integritasnya sangatlah tinggi
8. Innovative
dan proaktif : dalam berfikir pemimpin visioner sangatlah kreatif dia mengubah
berfikir konvesional menjadi paradigma baru, dia sangatlah sosok pemimpin yang
kreatif dan aktif. Dia selalu mengamati langkah–langkah ke depan dan isu–isu
terbaru tentang organisasi/instasi.
5.
Untuk menjadikan kepemimpinan yang kuat diperlukan
sumber-sumber kekuatan yang ada dan dimiliki setiap pribadi.
1.
Kekuatan Kepribadian
Untuk
memahami potensi kekuatan kepribadian anda, perlu untuk mengerti dua sumber
utama lainnya, kekuatan peran dan kekuatan pengetahuan. Gambaran di bawah ini
memberikan bagian terbesar kepada kekuatan kepribadian, tetapi akan salah untuk
meremehkan kemungkinan kekuatan dari dua yang lainnya.
2.
Kekuatan Peran
Kekuatan
peran berasal dan kedudukan yang anda pegang. mi bukan kekuatan yang datang dan
pengetahuan atau pengalaman. Ia juga bukan kekuatan yang datang dan sifat-sifat
kepribadian anda. Kekuatan peran berhubungan dengan kedudukan anda lepas dan
siapa yang mendudukinya. Saat seseorang dinaikkan dalam peran seorang penyelia,
ia mendapatkan kekuatan. Kita semua sudah melihat penyalahgunaan kekuatan
peran, bahkan path tingkat yang terendah sekali pun.
3.
Kekuatan Pengetahuan
Kekuatan
pengetahuan berasal dan pengertian akan keterampilan dan teknik yang diperlukan
untuk perilaku efektif dalam suatu peran tertentu. Karena masyarakat kita
menjadi makin teknis dan peran menjadi makin dispesialisasikan, kekuatan
pengetahuan menjadi makin penting.
6.
Tipe & Gaya Kepemimpinan
1)
Otorite/Authoritarian
Otoriter /
Authoritarian adalah gaya pemimpin yang memusatkan segala keputusan dan
kebijakan yang diambil dari dirinya sendiri secara penuh. Segala pembagian
tugas dan tanggung jawab dipegang oleh si pemimpin yang otoriter tersebut,
sedangkan para bawahan hanya melaksanakan tugas yang telah diberikan. Kepemimpinan
otokratis memiliki ciri-ciri antara lain: (1) mendasarkan diri pada kekuasaan
dan paksaan mutlak yang harus dipatuhi, (2) pemimpinnya selalu berperan sebagai
pemain tunggal, (3) berambisi untuk merajai situasi, (4) setiap perintah dan
kebijakan selalu ditetapkan sendiri, (5) bawahan tidak pernah diberi informasi
yang mendetail tentang rencana dan tindakan yang akan dilakukan, (6) semua
pujian dan kritik terhadap segenap anak buah diberikan atas pertimbangan
pribadi, (7) adanya sikap eksklusivisme, (8) selalu ingin berkuasa secara
absolut, (9) sikap dan prinsipnya sangat konservatif, kuno, ketat dan kaku,
(10) pemimpin ini akan bersikap baik pada bawahan apabila mereka patuh.
2) Militeristik
Tipe
kepemimpinan militeristik ini sangat mirip dengan tipe kepemimpinan otoriter.
Adapun sifat-sifat dari tipe kepemimpinan militeristik adalah: (1) lebih banyak
menggunakan sistem perintah/komando, keras dan sangat otoriter, kaku dan
seringkali kurang bijaksana, (2) menghendaki kepatuhan mutlak dari bawahan, (3)
sangat menyenangi formalitas, upacara-upacara ritual dan tanda-tanda kebesaran
yang berlebihan, (4) menuntut adanya disiplin yang keras dan kaku dari
bawahannya, (5) tidak menghendaki saran, usul, sugesti, dan kritikan-kritikan
dari bawahannya, (6) komunikasi hanya berlangsung searah.
3) Paternalistis
Kepemimpinan
paternalistik lebih diidentikkan dengan kepemimpinan yang kebapakan dengan
sifat-sifat sebagai berikut: (1) mereka menganggap bawahannya sebagai manusia
yang tidak/belum dewasa, atau anak sendiri yang perlu dikembangkan, (2) mereka
bersikap terlalu melindungi, (3) mereka jarang memberikan kesempatan kepada
bawahan untuk mengambil keputusan sendiri, (4) mereka hampir tidak pernah
memberikan kesempatan kepada bawahan untuk berinisiatif, (5) mereka memberikan
atau hampir tidak pernah memberikan kesempatan pada pengikut atau bawahan untuk
mengembangkan imajinasi dan daya kreativitas mereka sendiri, (6) selalu
bersikap maha tahu dan maha benar.
4) Demokratis
Kepemimpinan
demokratis berorientasi pada manusia dan memberikan bimbingan yang efisien
kepada para pengikutnya. Terdapat koordinasi pekerjaan pada semua bawahan,
dengan penekanan pada rasa tanggung jawab internal (pada diri sendiri) dan
kerjasama yang baik. kekuatan kepemimpinan demokratis tidak terletak pada
pemimpinnya akan tetapi terletak pada partisipasi aktif dari setiap warga
kelompok.
Kepemimpinan
demokratis menghargai potensi setiap individu, mau mendengarkan nasehat dan
sugesti bawahan. Bersedia mengakui keahlian para spesialis dengan bidangnya
masing-masing. Mampu memanfaatkan kapasitas setiap anggota seefektif mungkin
pada saat-saat dan kondisi yang tepat.
5) Kharismatis
Tipe kepemimpinan karismatis memiliki kekuatan energi, daya tarik dan pembawaan yang luar biasa untuk mempengaruhi orang lain, sehingga ia mempunyai pengikut yang sangat besar jumlahnya dan pengawal-pengawal yang bisa dipercaya. Kepemimpinan kharismatik dianggap memiliki kekuatan ghaib (supernatural power) dan kemampuan-kemampuan yang superhuman, yang diperolehnya sebagai karunia Yang Maha Kuasa. Kepemimpinan yang kharismatik memiliki inspirasi, keberanian, dan berkeyakinan teguh pada pendirian sendiri. Totalitas kepemimpinan kharismatik memancarkan pengaruh dan daya tarik yang amat besar.
Tipe kepemimpinan karismatis memiliki kekuatan energi, daya tarik dan pembawaan yang luar biasa untuk mempengaruhi orang lain, sehingga ia mempunyai pengikut yang sangat besar jumlahnya dan pengawal-pengawal yang bisa dipercaya. Kepemimpinan kharismatik dianggap memiliki kekuatan ghaib (supernatural power) dan kemampuan-kemampuan yang superhuman, yang diperolehnya sebagai karunia Yang Maha Kuasa. Kepemimpinan yang kharismatik memiliki inspirasi, keberanian, dan berkeyakinan teguh pada pendirian sendiri. Totalitas kepemimpinan kharismatik memancarkan pengaruh dan daya tarik yang amat besar.
6) Kontingensional
Model kepemimpinan kontingensi dikembangkan oleh Fielder. Fielder dalam Gibson, Ivancevich dan Donnelly (1995) berpendapat bahwa gaya kepemimpinan yang paling sesuai bagi sebuah organisasi bergantung pada situasi di mana pemimpin bekerja.
Model kepemimpinan kontingensi dikembangkan oleh Fielder. Fielder dalam Gibson, Ivancevich dan Donnelly (1995) berpendapat bahwa gaya kepemimpinan yang paling sesuai bagi sebuah organisasi bergantung pada situasi di mana pemimpin bekerja.
• Menurut
model kepemimpinan ini, terdapat tiga variabel utama yang cenderung menentukan
apakah situasi menguntungkan bagi pemimpin atau tidak. Ketiga variabel utama
tersebut adalah : hubungan pribadi pemimpin dengan para anggota kelompok
(hubungan pemimpin-anggota);
• kadar struktur tugas yang ditugaskan kepada kelompok untuk dilaksanakan (struktur tugas);
• kadar struktur tugas yang ditugaskan kepada kelompok untuk dilaksanakan (struktur tugas);
• dan
kekuasaan dan kewenangan posisi yang dimiliki (kuasa posisi).
7) Laissez Faire
Pada tipe
kepemimpinan ini praktis pemimpin tidak memimpin, dia membiarkan kelompoknya
dan setiap orang berbuat semaunya sendiri. Pemimpin tidak berpartisipasi
sedikit pun dalam kegiatan kelompoknya. Semua pekerjaan dan tanggung jawab
harus dilakukan oleh bawahannya sendiri. Pemimpin hanya berfungsi sebagai
simbol, tidak memiliki keterampilan teknis, tidak mempunyai wibawa, tidak bisa
mengontrol anak buah, tidak mampu melaksanakan koordinasi kerja, tidak mampu
menciptakan suasana kerja yang kooperatif. Kedudukan sebagai pemimpin biasanya
diperoleh dengan cara penyogokan, suapan atau karena sistem nepotisme. Oleh
karena itu organisasi yang dipimpinnya biasanya morat marit dan kacau balau.
8) Tipe Kepemimpinan Populistis
Kepemimpinan
populis berpegang teguh pada nilai-nilai masyarakat yang tradisonal, tidak
mempercayai dukungan kekuatan serta bantuan hutang luar negeri. Kepemimpinan
jenis ini mengutamakan penghidupan kembali sikap nasionalisme.
9) Tipe Kepemimpinan
Administratif/Eksekutif
Kepemimpinan
tipe administratif ialah kepemimpinan yang mampu menyelenggarakan tugas-tugas
administrasi secara efektif. Pemimpinnya biasanya terdiri dari teknokrat-teknokrat
dan administratur-administratur yang mampu menggerakkan dinamika modernisasi
dan pembangunan. Oleh karena itu dapat tercipta sistem administrasi dan
birokrasi yang efisien dalam pemerintahan. Pada tipe kepemimpinan ini
diharapkan adanya perkembangan teknis yaitu teknologi, indutri, manajemen
modern dan perkembangan sosial ditengah masyarakat.
http://referensi-kepemimpinan.blogspot.com/2009/03/pengertian-pemimpin.html
Langganan:
Postingan (Atom)
